Hantu Kelelawar?

Mitos tentang berkeliarannya hantu kelelawar kembali mencuat di Kampung Mekarwangi. Kampung yang bersebelahan dengan komplek di mana Sarah tinggal. Tapi Sarah menganggap, yang namanya mitos ya tetap mitos. Ia tidak pernah percaya ada hantu-hantu di dunia ini.

Tapi keyakinannya kemudian goyah ketika pada suatu sore, sepulang ia dari latihan taekwondo, di tengah hujan lebat, Sarah melihat bayangan sesosok tinggi besar berkeliaran di sekitar pohon raksasa di pinggir jalan. Pohon itu, pohon yang -kata orang kampung- tempat tinggalnya hantu kelelawar.

Sosok itu tak hanya tinggi besar, tapi juga bersayap!

Sarah langsung teringat pada mitos itu, HANTU KELELAWAR!

Jantungnya berdebar kencang. Ditemani dua pelatih taekwondo, Sarah akhirnya berhasil pulang ke rumahnya dengan selamat.

Benarkah apa yang dilihat Sarah adalah Hantu Kelelawar yang melegenda itu?

Mau tau jalan cerita selanjutnya? Baca aja yuk di novel pertama saya, Misteri Chiroptera Penculik.

Judul Novel: Misteri Chiroptera Penculik

Penulis: Sri Widiyastuti

Penerbit: BIP

Terbit: 2014

Tebal: 170 halaman + vii

Harga: Rp30000

 

 

My Best Story: Best Friend Forever

Mumpung lagi rajin, share juga buku yang sudah lama sekali saya ingin merekomendasikannya kepada teman teman belia. *eh saya juga masih belia lho … kan kita kawan

Ehm … buku yang ada di tangan saya sekarang adalah buku dengan judul my best story “Best Friend Forever” Kumpulan 10 cerita dari 10 penulis ternama.

Buat yang koleksi buku dengan tulisan penulis terkenal. Pasti girang punya buku ini. Begitu juga dengan saya.

Buku ini unik sekali. Mewakili 5 penulis anak (ini asli masih anak-anak) dan 5 penulis mewakili penulis bacaan anak yang sudah dewasa.

Jadi, jika kalian ingin belajar bagaimana menulis cerita belia *aduh tiba-tiba saya jadi hilang orientasi inih huhuhu* moga buku ini termasuk buku belia ya *berdoa* , buku ini saya rekomendasikan untuk dimiliki dan dibaca. Cerita pendek-pendek tentang persahabatan ini ditulis dengan gaya bahasa yang ringan dan ceritanya menghibur.

Cerita pertama yang mengambil perhatianku adalah cerita yang ditulis oleh Ayunda Nisa Chaira, atau biasa dipanggil Ayunda. Dia adalah penulis cilik produktif yang kini sudah remaja (SMA). Cerita yang ditulisnya sangat menyentuh dan mengharu biru. Bagaimana seorang remaja tuna rungu dan tuna wicara menciptakan dirinya dengan kepribadian yang lain di dunia maya! Menjadi seorang remaja populer di dunia maya menggiringnya memiliki banyak teman, pujian dan gank di dunia maya. Dunia yang tidak nyata. Kebahagiaan yang semu itu sempat membuatnya bangga, sampai pada suatu titik, dia menerima email dari seseorang yang mirip dengan dirinya. akhirnya dia tersadarkan bahwa dia menjadi anak yang kurang bersyukur.

Bagimana akhir dari kisah tentang Michelle Evanna? Lanjutannya ada di buku ‪#‎BFF‬

Ada lagi ceritanya mbak Haya Aliya Zaki. Cerpennya bercerita tentang tiga jagoan kecil yang penasaran dengan suara aneh dari rumah tua. Duh … perutku sampai kejang karena geli. Pengen tahu suara-suara mengerikan itu suara apa? hmm … cari tahu sendiri ya di buku itu hehhe

Kisah yang lain yang mengharukan dari mas Parlis Jaya. Yang intinya Best friend selalu ada saat dibutuhkan dan selalu siap sedia dimanapun, kapan pun dan dalam keadaan apapun. Hmm … pelajaran yang sangat berharga dalam menjalin persahabatan.

Dan … masih ada 7 cerita yang tak kalah seru dan menarik di dalam buku #BFF ini. Kaver bukunya sederhana, dengan dua anak remaja yang sedang tersenyum sammbil bergandengan tangan, dalam sebuah lingkaran berwarna merah pastel dengan latar belakang warna hijau telur asin. *untuk urusan warna ini, saya memang agak bermasalah ini T_T maafkan jika salah menyebutkan warnanya. Pasti, ada makna tersembunyi dibalik pembuatan kaver ini kan ya. Nice cover!

Siapa sajakah penulis penulis keren yang menulis di buku ini? Selain mbak Haya dan mas Parlis, ada mbak Veronica Widyastuti, mbak Rae Sita Patappa dan mas Denny Wibisono, Ayunda, Ninis, Nabila, Donna, dan Ramya.

Judul: Best Friend Forever
Penerbit: Dar!Mizan
Tebal: 201 Halaman

Continue reading

Dibalik cerita pembuatan novel Misteri Chiroptera Penculik

Ehm … beberapa waktu yang lalu, ada yang bertanya pada saya tentang proses kreatif dibalik pembuatan novel misteri chiroptera penculik. Jadi, daripada saya harus bolak balik menjawabnya di inbox, lebih baik saya share saja di sini ya. Kebetulan saya pernah diwawancara sama mbak Helen, layouter novel saya 🙂 Dengan penambahan dan perbaikan seperlunya, moga jadi mudah memahaminya. Haik … silakan … monggo yang ingin membacanya 🙂

+ Apakah ini novel pertama?

Iya benar, mbak. Ini adalah novel anak yang saya tulis pertama kali. Dan saya senang sekali dapat mewujudkannya menjadi sebuah buku novel 🙂

Continue reading

Resensi Buku: Membumikan Akhlak Lewat Cerita Anak

 

Saat pulang sekolah, di tengah jalan Aini menemukan sebuah dompet berwarna hitam. Dompet itu tergeletak di depan sebuah toko. Aini pun segera mengambil dompet tersebut dan menyerahkannya kepada penjaga toko. Tetapi, ternyata ibu penjaga toko bukan pemilik dompet itu.

Aini pun mencari sang pemilik dompet. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya sang dompet pun kembali kepada pemiliknya.

Continue reading

Aku dan Pohon Sakura

Pohon Sakura adalah salah satu impian masa kecilku. Saat televisi mulai menayangkan film serial si Oshin dan Ordinary People, aku begitu ingin menyentuh dan memetik bunga yang menjadi kebanggaan orang Jepang itu. Pohon Bunga Sakura, pohon ajaib menurutku, karena setelah gundul pohon itu pada musim dingin, pada musim semi yang tumbuh duluan justru bunga yang cantik berwarna pink. Setelah bunga  berguguran baru muncul daun. Subhanallah. Semakin dipikirkan, semakin besar keinginanku untuk melihat dan menyentuh pohon bunga sakura. Duduk-duduk di bawah pohonnya dan menikmati keindahan alam ciptaan Allah sambil makan-makan. Continue reading

Hari Gini Takut Disunat? Apa kata Dunia?

Buku Ali Muakhir-sunatan spesial

Sunatan Massal by Ali Muakhir

Sinopsis:

Buku ini berkisah tentang persahabatan dua orang anak laki-laki. Mandra anak betawi yang tinggal di Bojong Kenyot dan Siahaan anak Medan. Awal perjumpaan mereka, ketika Siahaan membaca pantun di sebuah majalah terbitan Ibukota. Tulisan itu milik Mandra. Lewat ujung pena yang mereka torehkan dalam sehelai kertas, mereka berkirim surat, berkenalan dan bersahabat. Ya, mereka lebih suka bersahabat lewat surat. Karena lewat pos lebih mendebarkan dibandingkan dengan sms atau fesbuk yang sekali klik langsung tahu beritanya. “Engga seru!” kata Mandra. Continue reading