Dibalik cerita pembuatan novel Misteri Chiroptera Penculik

Ehm … beberapa waktu yang lalu, ada yang bertanya pada saya tentang proses kreatif dibalik pembuatan novel misteri chiroptera penculik. Jadi, daripada saya harus bolak balik menjawabnya di inbox, lebih baik saya share saja di sini ya. Kebetulan saya pernah diwawancara sama mbak Helen, layouter novel saya ūüôā Dengan penambahan dan perbaikan seperlunya, moga jadi mudah memahaminya. Haik … silakan … monggo yang ingin membacanya ūüôā

+ Apakah ini novel pertama?

Iya benar, mbak. Ini adalah novel anak yang saya tulis pertama kali. Dan saya senang sekali dapat mewujudkannya menjadi sebuah buku novel ūüôā

+Boleh ceritakan bagaimana prosesnya?

Pertama kali, saya membuat konsep novel ini¬†saat saya mengikuti kelas Winner (bulan maret 2012), kelas menulisnya Kang¬†Ali Muakhir. Saat itu saya mengikuti kelas membuat novel anak. Dari rasa penasaran masa kecil, saya ingin mewujudkan sebuah novel yang bertema detektif cilik dan misteri. Saya ingin sekali mengangkat fenomena tentang ketakutan yang tidak¬†beralasan dari anak-anak gara gara ditakut takuti orang tua. ketakutan¬†pada makhluk yang disebut “kalong wewe” atau “wewe gombel”. Saat saya kecil pernah mengalami teror takut pada kalong. Bahkan, sempat merasa melihat penampakan makhluk¬†itu di lapangan depan rumah saya. (Ada bagian ini di novel Chiroptera).

Ya, ide cerita di dalam novel ini adalah dari pengalaman masa kecil saya. Kemudian dikembangkan menjadi sebuah novel.

Di kelas winner, saya¬†membuat konsep zaman dahulu dimasukan di dalam zaman sekarang. Berawal dari cerita nenek tentang masa lalu, dari mulai munculnya kalong¬†wewe, penculikan misterius dan sebuah rumah misterius. Itu semua memang ada di dalam kehidupan masa kecil saya (masa tahun 1980-an, saat itu¬†banyak beredar kasus penembak misterius ūüôā pasti mbak helen belum lahir kan ūüôā akhirnya konsep novel ini menemukan judul juga, Diculik¬†Gerombolan Chiroptera.

Tapiii … ternyata membuat konsep saja tidak mudah. Saya mengalami “macet” dalam mengembangkan ide awal saya. Akhirnya karena sudah lama¬†tidak jadi-jadi novel itu, saya mengikuti kelas kedua pada bulan November 2012. Kelas Ajaib namanya. Kelas yang digawangi oleh Kang Benny Ramdhani,¬†selaku kepala sekolahnya. Di kelas Ajaib saya belajar tentang membuat novel 50
halaman hanya dalam waktu 10 hari. Bayangkan 10 hari! Tantangan untuk saya yang masih lemot dalam merangkaikan kata menjadi sebuah karya yang layak untuk dibaca. Agak keder juga heuheu tapi bismillah … kalau tidak dicoba, kapan selesainya? Saya terus memberikan suntikan semangat pada diri sendiri. Mana teman sekelas saya semuanya penulis keren-keren lagi. Tambah mupeng bisa seperti mereka.

Nah dari kelas¬†ini saya akhirnya menemukan rahasia menulis novel dalam waktu yang singkat. Salah satunya adalah konsisten dalam menulis. Saya pun mengubah¬†plot konsep awal secara total dengan cara menerapkan ilmu yang telah diberikan oleh mentor. Kemudian saya berusaha menyelesaikan novel ini sesuai rencana. Dalam penulisannya, setiap penulis mendapatkan satu mentor, yaitu teman yang dipasangkan dalam kelas. Kebetulan saya dimentori oleh mbak Fitha, aih … bahagia banget karena mendapatkan mentor yang produktif dan baik hati. Tapi, sayangnya, dalam perjalanannya, ternyata saya tidak bisa menyelesaikan novel dalam waktu 10 hari. Sebagai pemula saya bangga juga bisa menyelesaikan naskah novel saya dalam waktu sebulan. Tepat pada waktu DL perpanjangan waktu yang telah disepakati.

Mengapa menulisnya molor dari target?

Saat membuat novel ini, saya browsing  tentang kebiasaan kelelawar, suaranya dan apapun tentang kelelawar, mencari tahu
tentang kebiasaan halloween di singapura dan kostumnya, mencari tahu bandara husein di bandung, mencari tahu tentang pohon beringin, mencari tahu tentang olahraga taekwondo beserta istilah istilahnya, membaca  novel anak  dan menonton film detektif conan. Karena ada satu bab yang menceritakan dua anak kembar yang berdialog dengan bahasa malaysia, saya pun membaca novel detektif anak berbahasa malaysia.

Novel ini cukup unik karena ada tokoh dua anak kembar dari Malaysia. Sedikit-sedikit ada konflik bahasa di dalamnya. Dan ini bumbu yang tak sekadar lucu, tetapi menambah wawasan pengetahuan berbahasa anak-anak.

Nah, apakah akhirnya novel ini terbit? belum!

Masih panjang¬†perjalanannya. Pada bulan Oktober 2013 saya beranikan diri mengajukan¬†novel ini kepada BIP (mbak Deesis), mbak deesis tertarik untuk menerbitkan naskah saya di BIP, namun beliau¬†mengatakan bahwa novel ini terlalu datar, di akhir ceritanya kurang menarik. Kurang greget! Mbak deesis¬†minta saya merevisi dari bab 4 sampai bab 10. Plot cerita pun diubah. Wuahhh … 6 bab diubah!

Alhamdulillah saat harus merevisi novel itu, saya sedang mengikuti kelas dengan Bunda Ary Nilandari, tentang novel anak genre Realistis kontemporer. Dari materi yang beliau sampaikan, saya jadi sadar, novel saya memang masih mentah dan perlu perbaikan. Saya pun berdiskusi bersama teman teman di kelas, supaya mendapatkan novel dengan kulitas yang nendang. Salah satu teman saya menyarankan saya untuk nonton film conan.

Selain membaca, menonton film adalah salah satu yang saya lakukan jika mentok ide. Saya menonton film detektif conan bolak balik sampai akhirnya saya bisa menyelesaikan naskah novel itu. Judulnya juga saya ganti lebih ilmiah, Misteri Chiroptera Penculik.  Di dalam novel, saya selipkan beberapa pengetahuan tentang kelelawar agar anak anak tidak takut pada kelawar.

+ Apakah ide novel ini dari pengalaman masa kecil?

Iya, ini adalah cerita pengalaman masa kecil saya. mungkin ceritanya hanya 1 %, selebihnya adalah rekayasa saya hihihi  duluuuu saya memang suka film serial detektif lima sekawan, trio detektif, suka baca bukunya dan nonton filmnya, waktu itu ada di TVRI. sayang sekarang film film keren itu dah engga ada lagi ya.

waktu kecil, saya pernah merasa melihat penampakan “kalong wewe”, saya ingin sekali menyelidiki bener enggak sih kalong¬†wewe itu ada hehhe, sinyal detektifnya dah on tapi takut. Dari pengalaman¬†itu, akhirnya jadilah cerita novel ini. Bumbunya banyak!¬†Bumbu yang saya percikan dalam novel ini adalah persahabatan, kasih¬†sayang, petualangan, empati, ketakutan anak anak pada hantu, dll.¬†Misi awal adalah mengajarkan pada anak anak tidak percaya begitu saja¬†kepada hal hal yang berbau syirik! Tak perlu takut kepada makhluk¬†makhluk gaib, karena ada Allah yang akan menolong.

Dulu, saya takut sama si kalong ini. Takut sekali! Alhamdulillah semakin besar semakin paham, makhluk halus memang ada, tetapi kita tidak perlu takut apalagi menjadikan mereka menjadi makhluk keramat.

+ Apakah dalam membuat sebuah cerita  mencari data dulu?

Iya. saya mencari data lewat internet dan membaca buku. Selama menulis novel ini, saya bolak balik ke perpustakaan di dekat rumah saya. Kebetulan perpustakaan itu perpustakaan anak anak, jadi lumayan lengkap literatur yang cocok untuk anak anak.

Kenapa harus browsing dan nonton film conan? ini lebih kepada mengumpulkan data dan mengusir writer block! setiap penulis pasti pada titik tertentu pernah mengalami stag atau macet atau writer block! Nah, salah satunya yang saya lakukan adalah curhat kepada sesama penulis (ngobrol dengan manusia hihihi), nonton film atau baca buku yang berkaitan dengan apa yang sedang saya tulis.

Bagi penulis, menulis apapun harus punya data atau kita mengetahui apa yang akan kita tulis. Sehingga tulisan kita memiliki kekuatan yang akan berdampak pada pembaca. Ini juga memengaruhi bahasa tulisan kita, kalau kita memahami apa yang kita tulis biasanya cerita akan mengalir dan berisi.

+ Apakah seorang penulis cerita kudu punya daya imajinasi yang kuat?

Tentu!¬†Itulah salah satu modal¬†yang harus dimiliki oleh penulis cerita.¬†Beruntung saya memiliki 5 orang anak. dengan bergaul dengan mereka, saya menjadi tahu apa saja yang ada dipikiran mereka, kadang banyak hal yang¬†tidak bisa dibayangkan oleh orang dewasa sepolos pikiran anak anak ūüôā¬†Saat menulis, saya biasanya melibatkan anak anak saya. Mereka menjadi “first reader” naskah-naskah saya. Kira-kira cocok tidak, bisa dipahami tidak dan ramah anak tidak? kan buku ini untuk anak-anak, sehinga harus mudah dipahami dan membuat mereka suka membacanya ūüôā

+ Kalau tidak punya daya imajinasi?

Semua bisa dilatih mbak, saya¬†yakin pasti bisa. semua manusia dewasa awalnya kan dari anak-anak. Pasti¬†ingat dong masa kanak kanaknya dulu ūüôā kalau menurut saya, dalam menulis buku¬† bacaan anak, harus mencintai dunia anak anak. Penulis¬†cerita anak harus dekat dengan anak-anak, harus dekat dengan dunia¬†anak anak, misalnya bisa dengan menonton cerita anak, membaca buku¬†cerita anak yang dibuat senior dalam menulis, mendengar cerita tentang¬†anak anak dari orang tua dll. Oiya, kalau imajinasi fantasi, bisa didapat dari bahan bahan bacaan atau tontonan ūüôā

+ Apakah membaca buku bisa mempengaruhi gaya menulis?

Menurut saya, mempengaruhi. Makanya Dan Brown jika sedang menulis buku fiksi, dia lebih suka membaca buku non fiksi. Bagi pemula seperti saya, membaca novel detektif saat menulis cerita detektif, hal ini¬† membantu saya menentukan gaya¬†untuk menulis cerita detektif anak. Begitu juga saat menulis cerita romantis atau ¬†menulis kisah inspiratif.¬†semua harus dibaca dulu agar tidak salah membuat naskah dan akhirnya tulisan kita tidak tepat sasaran ūüôā

Meskipun, setiap penulis punya gaya penulisan berbeda. Punya ciri khasnya masing-masing. Tetapi membaca karya orang lain, baik untuk pelajaran awal dan referensi awal menulis.

Jadi, jika ada yang mengatakan, membaca-membaca-menulis, memang itulah adanya. Modal penulis adalah dua hal itu membaca dan menulis. Menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan ide berupa tulisan yang ditangkap melalui panca indera kita. Baik itu ide dari membaca buku, majalah, koran maupun melihat banyak hal yang terjadi disekeliling kita.

+ Bab 4 sampai bab 10 diubah, apa yang kamu lakukan?

Merevisinya total!¬† Saya sangat senang sekali bekerjasama dengan BIP¬†terutama dengan mbak Deesis dengan mbak Helen, berkat kalian, novelku¬†ini menjadi hidup. Nah awalnya memang novel ini datar sekali. saat aku¬†baca ulang pun wahhh … kurang menarik! Akhirnya ya itu, saya menonton film si¬†conan, membaca novel novel sejenis dan memikirkan ulang harus bagaimana¬†agar novel ini menarik dan layak dibaca sampai habis!

Alhamdulillah …¬†meski menghabiskan waktu selama satu bulan untuk revisi, akhirnya terbit juga novel yang sudah mendapatkan apresiasi NOVEL BEST dari editor malaysia (editor majalah anak Ana Muslim). Kata beliau untuk ukuran novel¬†perdana, Novel Misteri Chiroptera Penculik adalah novel yang best dan grand! *cie cie … GR nih kita hihihi

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua guru menulisku, Kang Ali, Bhai Benny dan Bunda Ary, terima kasih atas bimbingannya di kelas novel. Sehingga novel ini terbit dan disukai oleh anak-anak. Terima kasih juga saya ucapkan kepada mbak Dessis, mbak Hellen, mas Rahman (ilustrator) dan Penerbit BIP dan semua teman teman yang mendukung proses tewujudnya novel ini.

Tidak ada gading yang tak retak. Begitu juga tidak ada novel yang yang tak retak hehhe moga novel ini bermanfaat dan disukai para pembaca cilik di mana pun berada. Novel ini sudah terbang ke malaysia dan Jepang, lho. Kapan terbang ke rumah kamu?

Nah inilah penampakan novel pertama saya ūüôā

 

Itulah sekelumit cerita dibalik pembuatan novel Misteri Chiroptera Penculik. ¬†Semoga bisa membantu teman-teman yang ingin memulai menulis novel detektif anak ūüôā Salam sukses selalu ^_^ Yang belum punya, silakan jalan-jalan ke Gramedia ya.

 

Advertisements

8 thoughts on “Dibalik cerita pembuatan novel Misteri Chiroptera Penculik

  1. Makasih, mbak Sri Widyastuti sharingnya. Daku lagi dalam masa galau karena salah satu novelku terkatung-katung belum nemukan takdirnya. Sekarang jadi ngerasa nemu teman dengan perjalanan panjangnya ^_^. Semangat nulis lagiiiiiiii

    • Hihihi … berarti sekarang udah enggak galau lagi kan? lha saya aja novel pertama lama banget baru terbit hehhe insyaAllah pasti kalau jodoh mah enggak kemana mbak. aku doakan semoga segera mendapatkan jodoh itu naskah dantidak diphp ūüôā aamiinn … yukk semangat menuliss ^_^

    • iya mbak naqi, banyak kelebihannya mengikuti kelas menulis baik online maupun offline. Selain bekalan ilmu juga kita secara tidak langsung mendapatkan motivasi dan inspirasi dari mentor dan kawan-kawan yang memiliki kecenderungan yang sama ūüôā

    • hai mbak hana, pangling dengan nama barunya hihihi saya sempet berkerut kening, mencari cari siapakah dibalik nama kinzihana hihi hedeuh ternyata temen lame ūüôā

      pesen lewat aku aja mbak, nanti aku kasih bonus ttd, kebetulan ada temen yang mau pulang, ntar aku titipin ke temen kirim di Indonesia. gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s